Abdul Muis : Pejuang dan Sastrawan

Oleh Sunday, November 6th, 2016 Kategori : Sejarah

Biografi Pahlawan Nasional Abdul Muis – Berjuang memang tidak harus selalu dengan senjata. Berjuang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya melalui pena, karena kekuatan pena ternyata tidak kalah tajamnya dibandingkan peluru maupun pedang. Melalui persatuan dalam bentuk organisasi juga bisa, kerena persatuan akan saling kuat-menguatkan untuk meraih satu tujuan bersama. Begitu pula melalui diplomasi, karena pertempuran di medan diplomasi membutuhkan strategi dan siasat tersendiri. Pendek kata, berjuang demi meraih kemerdekaan bangsa memang bisa dilakukan melalui berbagai cara.

biografi-pahlawan-nasional-abdul-muisTapi tak banyak yang mampu memanfaatkan berbagai cara sekaligus dalam perjuangannya. Abdul Muis adalah satu satu diantara yang sedikit itu. Ia mampu mengoptimalkan segenap potensi yang ada di dalam dirinya untuk berjuang dan melawan penindasan penjajah. Dalam berbagai pran dan cara, Ia berkeinginan kuat melihat bangsa dan tanah air tercintanya terlepas dari belenggu penjajahan.

Abdul Muis dilahirkan di Sungar Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 3 Juli 1883. Ia adlaah lulusan Hollandsche Burger School (HBS) dan kemudian melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Dokter Bumiputra (School Tot Opleiding Van Inlandshe Aartsen atau STOVIA). Namun, ia memutuskan tidak meneruskan sekolahnya dan memilih bekerja menjadi pegawai negeri.

Nama Abdul Muis mulai dikenal luas ketika artikel-artikel yang ia tulis kerap dimuat di De Express milik Indische Partij, yang dipimpin Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat dan Cipto Mangunkusumo. Melalui tulisan-tulisannya, ia sering mengecam Belanda yang merendahkan martabat kaum bumiputra. Kepiawaian dan wawasan luas yang melahirkan tulisan-tulisannya diawalinya ketika Abdul Muis bekerja di Preangerbode, surat kabar milik orang Belanda yang hadir pada kurun 1886-1923.

Ia kemudian bergabung dengan majalah Hindia Sarekat sebagai redaktur, setelah De Expres dibredel Pemerintah Kolonial Belanda akibat artikel keras tulisan Suwardi Suryaningrat pada 1912. Namanya juga tercantum dalam jajaran redaksi Utusan Hindia, media Sarekat Islam, pada 1915. Sekitar dua tahun kemudian, ia bergabung dengan Neraca yang dipimpin Agus Salim dan ditunjuk sebagai pemimpin redaksi. Ia lalu turut memprakarsai penerbitan koran Kaum Kita pada 1921, dan setahun kemudian ia bersama AH Wignyadisastra mendirikan koran Kaum Muda.

Abdul Muis, Agus Salim dan Datuk Tumenggung (Pemimpin Umum percetakan De Evolusi) sering disebut sebagai tiga serangkai yang berjuang melalui Sarekat Islam, kecuali datuk Tumenggung yang kemudian menjadi pejaabat tinggi pemerintah Belanda.

sejarah-pahlawan-indonesia-abdul-muisSelain wartawan andal., Abdul Muis juga dikenal sebagai sastrawan. Dari buah pikirnya telah lahir roman Salah Asuhan (1928) yang sangat terkenal itu. Selain itu, ia juga menulis Pertemuan Jodoh (1933). Buah karyanya yang lain adalah Surapati (1950) yang menceritakan sepak terjang perjuangan Untung Surapati ketika melawan Belanda, serta Robert Anak Surapati (1953). Sekalipun melalui sastra, Abdul Muis tetap menumbuhkan kesadaran akan kecintaan pada tanah air dan bangsa Indonesia. Sementara karya-karya sastra terjemahannya adalah Don Kisot (karya Cerpantes, 1923), Tom Sawyer Anak Amerika (karya Mark Twain, 1928), Sebatang kara (karya Hector Melot, 1932) dan tanah Airku (karya C Swaan Koopman, 1950).

Abdul Muis berjuang pula dalam wadah organisasi kebangsaan. Ia pernah bergabung dengan sareka Islam hingga diangkat sebagai salah seorang anggota pengurus besar. Ia mempunyai andil besar mendepak orang-orang komunis dari keanggotaan Sareka Islam melalui kebijakan disiplin partai yang melarang anggotanya untuk merangkap anggota perhimpunan lain. Ia bersama Umar Said Cokroaminoto terpilih menjadi anggota Volkstraad (dewan Rakyat). Pada 25 November 1918, ia pernah mengajukan mosi terhadap Pemerintah Kolonial Belanda agar membentuk parlemen yagn anggota-anggotanya dipilih sendiri oleh rakyat.

Di setiap kesempatan, Abdul Muis selalu memanfaatkan situasi dan kondisi untukk kepentingan negeri tercintanya. Ketika ia dikirim ke Belanda pada 1917 atas nama Komite Ketahanan hindia Belanda (Indie Weebaar), ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mempengaruhi tokoh-tokoh politik Belanda agar mendirikan Sekolah teknologi Tinggi (Technische Hooge School) di Indonesia. Perjuangannya tidak sia-sia karena sekolah itu akhirnya didirikan di Indonesia dan sekarang terkenal namanya dengan institut Teknologi Bandung.

Sejarah pahlawan indonesia Abdul Muis melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda dengan cara unik. Selain melalui tulisan-tulisannya, ia juga menggelorakan pemboikotan perayaan yang diadakan Belanda untuk mengenang 100 tahun terbebasnya Belanda dari penjajahan Perancis. Sungguh terasa memilukan hati bagi bangsa yang tengah dijajah, namun dipaksa merayakan peristiwa terbebasnya sang penjajah dari penjajahan yang dulu dialaminya!

Ketika terjadi pemogokan masal para buruh di yogyakarta pada 11 Januari 1922, yang disinyalir Belanda atas ulah De Staking Skoning alias Raja Pemogokan Raden Mas Suryopranoto, Abdul Muis jelas-jelas terlibat karena ia merupakan salah seorang pemimpin pemogokan besar-besaran itu. Ketika itu, ia menjabat ketua Perserikatan Pegawai Pegadaian Bumiputra. karena perlawanan yang ditunjukkannya, Pemerintah Kolonial Belanda akhirnya menangkapnya dan mengasingkannya ke Garut, Jawa Barat, pada 8 Februari 1922. Penangkapan dan pengasingan itu memuat Abdul Muis tak bisa lagi terjun ke arena pergerakan nasional. Ia menghabiskan waktunya dalam pengasingan dengan bertani.

Setelah Sukarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Abdul Muis di Garut membentuk Persatuan Perjuangan Priangan untuk membantu mempertahankan kemerdekaa. Abdul Muis seolah-olah tidak kehabisan akal dan cara untuk menunjukkan perjuangannya melawan penjajah.

Ia meninggal di Bandung pada 17 Juni 1959. Jenazahnya di makamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Pemerintah Indonesia mengankat Abdul Muis selaku Pahlawan Nasional pada 30 Agustus 1959 berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 218 tahun 1959.

Abdul Muis : Pejuang dan Sastrawan | idhawati | 4.5

Send this to friend